Jumat, 07 Januari 2022

Wasiyat Nabi Muhammad Tentang Halal dan Haram

 Tugas Dakwah Bil Qolam Memenuhi Laporan Bulanan Penyuluh Agama Islam Non PNS Spesialisasi Jaminan Produk Halal Kec.Berbek, Kab.Nganjuk

Jumat, 7 Januari 2022

Wasiat Nabi Muhammad tentang Halal dan Haram

Berikut Tujuh Wasiat Rasulullah Saw yang berkaitan dengan halal dan haram sebagaimana dijelaskan dalam kitab Wasiyatul Mustofa karya Syaikh Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy Sya'rani Al Anshari Asy Syafi'i Asy Syadzili Al Mishri atau dikenal sebagai Imam Asy Syarani

Pertama:

يا علي. من اكل الحلال صفا دينه، ورق قلبه، ولم يكن لدعو ته حجاب

Wahai Ali, barang siapa yang makan makanan halal maka agamanya akan bersih, hatinya akan lembut, dan tidak akan terhalang doanya.

Kedua:

يا علي، من اكل الشبها ت اشتبه عليه دينه واظلم قلبه ومن اكل الحرام مات قلبه وخف دينه وضعف يقينه و حجب الله دعوته وقلت عبادته

Wahai Ali, barang siapa yang makan makanan syubhat, maka agamanya akan syubhat dan hatinya akan menjadi gelap (maksudnya orang yang makan syubhat hatinya tidak akan bisa menerima nasihat agama sehingga gelap hatinya). Dan barang siapa yang makan makanan haram maka akan mati hatinya, ringan agamanya (menyepelekan agama), lemah keyakinannya, doanya akan terhalang dan sedikit ibadahnya.

Ketiga:

يا علي، اذا غضب الله على احد رزقه مالا حراما. فاذل اشتد غضبه عليه وكل به شيطانا. يبارك له فيه ويصحبه ويشغله بالدنيا عن الدن. ويسهل له امور دنياه ويقول: الله غفور رحيم

Wahai Ali, Jika Allah marah kepada seseorang maka Allah akan memberinya rezeki yang haram. Dan ketika Allah semakin marah kepada seseorang hamba maka Allah akan mewakilkan (memberi kuasa) kepada setan untuk menambah rezekinya dan menemaninya, menyibukannya dengan dunia serta melupakan agama. Memudahkan urusan dunianya dan setan berkata (menggoda dengan kalimat): Allah maha pengampun dan maha penyayang.

Keempat:

ياعلي ماسافر احد طالبا الحرام ماشيا الا كان الشيطان قرينه، ولاراكبا الا كان رديفه، ولا جمع احد ما لا حراما الا اكله اليطان. ولا نسى احد اسم الله تعالى عند الجماع الا شاركه الشيطان في ولده. وذلك قوله تعالى: وشاركهم في الاموال والاولاد وعدهم. الاسراء: ٦٤

Wahai Ali, tidaklah seseorang berjalan kaki untuk mencuri perkara yang haram, kecuali setan akan menemaninya Jika ia berkendara maka setan akan mengikutinya. Dan tidaklah seseorang mengumpulkan harta haram, kecuali setan ikut memakannya. Dan jika lupa menyebut nama Allah ketika berhubungan suami istri, maka setan akan menemani anak-anaknya.

Sebagaimana firman Allah pada surat Al-Isra ayat 64:

وشاركهم في الاموال والاولاد وعدهم

Dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah (janji palsu) mereka.

Kelima:

ياعلى، لا يقبل الله تعالى صلاة بلا وضوء. ولا صدقة من الحرام.

Wahai Ali, Allah tidak akan menerima sholat tanpa wudhu. Dan tidak akan menerima sedekah dari harta haram.

Keenam:

يا على، لا يزال المؤمن في زيادة في دينه مالم ياكل الحرام. ومن فارق العلما ء مات قلبه وعمى عن طاعة الله تعالى

Wahai ali orang mukmin akan selalu bertambah (kuat) agamanya selama ia tidak memakan yang haram. Dan barangsiapa meninggalkan (menjauhi) ulama, maka hatinya akan mati, dan buta dalam melaksanakan taat kepada Allah.

Ketujuh:

ياعلى، من قرا القران ولم يحل حلاله ولم يحرم حرامه كان من الين نبذوا كتاب الله وراء ظهورهم

Wahai Ali, barang siapa yang membaca Al-Quran tapi tidak menghalalkan apa yang dihalalkan dalam Al-Quran dan tidak mengharamkan apa yang diharamkan dalam Al-Quran maka orang tersebut termasuk orang-orang yang melemparkan kitab Allah (Al-Quran) ke belakang punggungnya.

Demikian Tujuh Wasiat Rasulullah Saw yang dimuat dalam kitab Wasiyatul Mustofa, karya Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya'rani. Semoga bermanfaat!




Selasa, 14 Desember 2021

Hukum Memakan Makanan dari non Muslim

 Tugas Dakwah Bil Qolam Memenuhi Laporan Bulanan Penyuluh Agama Islam Non PNS Spesialisasi Jaminan Produk Halal Kec.Berbek, Kab.Nganjuk

Selasa, 14 Desember 2021

Hukum Memakan Makanan dari Non Muslim

Dalam pergaulan sehari-hari, kita sebagai umat muslim Indonesia pasti pernah berinteraksi dengan orang non muslim. Indonesia memang melindungi rakyatnya dalam hal beragama. Dan Tanah Air kita memiliki beragam agama, budaya, tradisi, serta ras. Lalu bagaimana hukumnya jika umat muslim memakan makanan dari non muslim.

Interaksi antar agama yang harmonis biasanya dihiasi dengan kebiasaan bertukar makanan. Misalnya ada seorang teman kerja yang membagi hasil masakannya, karena kita sebelumnya pernah berbagi masakan dari rumah kita. Lalu, jika kita menerima makanan dari orang non muslim, apakah kita boleh menyantapnya? 

Boleh Mengkonsumsi Makanan atau Masakan dari Orang non Muslim

Para ulama berpendapat bahwa masakan atau makanan yang dibuat oleh orang non muslim hukumnya halal dan boleh dikonsumsi, selama makanan itu bukan makanan yang diharamkan oleh Islam dan bukan berupa najis. Misalnya ada orang non muslim menyuguhkan rendang, mie instan, ikan, atau makanan apapun yang halal untuk kita makan secara umum. 

Barang pemberian dari orang non muslim adalah suci dan boleh dikonsumsi atau digunakan. Dari Abu Humaid, dahulu Rasulullah pernah menerima hadiah dari raja negeri Ailah berupa seekor baghol berwarna putih dan pakaian Burdah (pakaian untuk menyelimuti tubuh dari hawa dingin). Rasulullah menerimanya dan menulis surat kepada sang raja.

Status non Muslim Tidak Menjadi Penentu Halal-Haramnya Makanan yang Dibuatnya 

Walaupun mereka orang non muslim, itu bukanlah sebab makanan yang dimasaknya atau diberikannya menjadi haram untuk dimakan umat muslim. Menurut para ulama, halal dan haramnya makanan dalam Islam ditentukan oleh dua hal. Satu, zat dan bahan makanannya. Dua, cara mendapatkannya. 

Jika kandungan makanan yang diberikan kepada kita tidak ada bahan-bahan yang diharamkan, dan semuanya terbuat dari bahan yang halal, maka umat Islam boleh menyantapnya. Misalnya kita sudah memastikan bahwa di dalamnya tidak ada unsur babi, darah, atau bangkai. Demikian juga kita telah mengetahui dengan pasti bahwa makanan ini diperoleh dengan cara yang baik, dan bukan dengan cara mengambil hak orang lain secara zalim.

Hukum asal makanan adalah boleh disantap menurut para ulama. Makanan menjadi haram jika kita melihat dengan nyata bahwa ada najis di dalamnya, atau ada bahan-bahan yang diharamkan sehingga tidak boleh dimakan. 

Kedepankan Prasangka Baik 

Dalam berinteraksi dengan orang non muslim, kita tetap harus mengedepankan prasangka baik. Apalagi jika rekan-rekan non muslim di sekitar kita menawarkan makanan untuk kita santap. Berarti mereka adalah orang baik yang ingin menjadi kawan kita, sampai-sampai bersedia membagi makanannya. 

Prasangka baik yang harus kita miliki adalah bahwa mereka tidak mau menjerumuskan kita dengan memberikan makanan yang diharamkan oleh agama yang kita anut. Kedepankan prasangka baik bahwa mereka tidak akan menghalangi kita untuk menjalankan perintah Allah. Apalagi di Indonesia, banyak orang non muslim yang sudah mengetahui bahwa umat muslim diharamkan mengkonsumsi bahan makanan tertentu, misalnya babi, darah, dan minuman beralkohol. 

Memperlakukan orang-orang non muslim sebagai orang yang ingin menjerumuskan dan menjebak kita bukanlah hal yang patut dilakukan. Karena tidak semua orang non muslim memiliki hati yang buruk seperti itu.

Bagaimana Jika Alat Masak atau Alat Makannya Pernah Digunakan untuk Memasak Bahan yang Haram? 

Hal yang mungkin dikhawatirkan adalah jika peralatan masak mereka digunakan untuk makan atau masak bahan-bahan yang haram atau najis. Mengenai ini, kita hanya perlu memastikan bahwa peralatan makan atau peralatan masak yang mereka gunakan sudah dicuci dengan bersih dan tidak tampak najisnya.

Rasulullah juga pernah mengajari cara membersihkan bejana berisi air yang sempat diminum oleh anjing. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda “Bila anjing minum dari wadah air milikmu, harus dicuci tujuh kali” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Orang-orang non muslim biasanya gemar mengkonsumsi babi. Para ulama juga ada sebagian yang menyamakan seperti anjing, yaitu sebagai najis yang berat. Tetapi untuk peralatan makan dan masak mereka, belum tentu harus dicuci tujuh kali dan salah satunya dengan tanah sebelum bisa kita gunakan. Karena mereka juga tidak setiap hari memasak masakan yang menggunakan anjing atau babi. 

Kalaupun mereka memakan darah atau hewan bangkai yang tidak disembelih secara syar’i, maka hukumnya adalah najis sedang dan hanya perlu dicuci sampai bau aroma dan rasanya hilang. Dugaan kita (yang memperkirakan bahwa alat makan dan masak yang mereka gunakan pernah dipakai untuk memasak daging anjing atau babi) tidak bisa merubah status hukum makanan yang diberikan kepada kita. 

Halal dan haramnya sesuatu harus didasarkan pada bukti nyata dan kuat, bukan sekadar prasangka. Jika mereka sendiri yang memberitahunya, kita baru bisa memastikan bahwa mereka memasak dengan menggunakan bahan yang diharamkan, atau alat masaknya pernah digunakan untuk memasak bahan yang haram. Kalau ada bukti demikian, maka alat makan yang disuguhkan kepada kita juga harus kita pastikan telah dicuci sesuai syariah dan dipakai dalam keadaan kering.

Jika tidak ada pengakuan dari kawan non muslim yang memberikan makanan pada kita, maka statusnya sebagaimana kondisi fisik yang kita lihat, yaitu bersih dan suci. Apabila memang ada orang non muslim yang sengaja berbohong dan membiarkan kita memakan makanan yang haram, Insyaa Allah kita tetap terbebas dari dosa. Karena ada kaidah dari para ulama, “Kita menetapkan hukum berdasarkan lahiriyah, sedangkan yang tersembunyi menjadi urusan Allah”.


Senin, 08 November 2021

Tawakal dan Tolabul Halal

 Tugas Dakwah Bil Qolam Memenuhi Laporan Bulanan Penyuluh Agama Islam Non PNS Spesialisasi Jaminan Produk Halal Kec.Berbek, Kab.Nganjuk

Selasa, 9 November 2021

Tawakal dan Tolabul Halal

Syariat Islam yang agung sangat menganjurkan kaum muslimin untuk melakukan usaha halal yang bermanfaat untuk kehidupan mereka, dengan tetap menekankan kewajiban utama untuk selalu bertawakal (bersandar/berserah diri) dan meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam semua usaha yang mereka lakukan.

Allah Ta’ala berfirman,

{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk mencari rezki dan usaha yang halal) dan carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung” (QS al-Jumu’ah:10).

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman,

{فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ}

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal (kepada-Nya)” (QS Ali ‘Imraan:159).

Makna Tawakkal yang Hakiki

Tawakkal adalah termasuk amal yang agung dan kedudukan yang sangat tinggi dalam agama Islam, bahkan kesempurnaan iman dan tauhid dalam semua jenisnya tidak akan dicapai kecuali dengan menyempurnakan tawakal kepada Allah Ta’ala. Menurut Imam Ibnu Rajab al-Hambali “Tawakkal yang hakiki adalah penyandaran hati yang sebenarnya kepada Allah Ta’ala dalam meraih berbagai kemaslahatan (kebaikan) dan menghindari semua bahaya, dalam semua urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepadanya dan meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang dapat memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya serta memberikan manfaat kecuali Allah (semata)”

Merealisasikan tawakkal yang hakiki adalah sebab utama turunnya pertolongan dari Allah Ta’ala bagi seorang hamba dengan Dia mencukupi semua keperluan dan urusannya. Allah Ta’ala berfirman,

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Usaha yang Halal Tidak Bertentangan dengan Tawakkal

Di sisi lain, agama Islam sangat menganjurkan dan menekankan keutamaan berusaha mencari rezki yang halal untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلَ الرَّجُلُ مِنْ كَسْبِهِ

“Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri (yang halal)”.

Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan bersungguh-sungguh mencari usaha yang halal dan bahwa usaha mencari rezki yang paling utama adalah usaha yang dilakukan seseorang dengan tangannya sendiri.

Berdasarkan ini semua, maka merealisasikan tawakal yang hakiki sama sekali tidak bertentangan dengan usaha mencari rezki yang halal, bahkan ketidakmauan melakukan usaha yang halal merupakan pelanggaran terhadap syariat Allah Ta’ala, yang ini justru menyebabkan rusaknya tawakal seseorang kepada Allah.

Dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa tawakal (yang sebenarnya) bukanlah berarti bermalas-malasan dan enggan melakukan usaha (untuk mendapatkan rezki), bahkan (tawakal yang benar) harus dengan melakukan (berbagai) macam sebab (yang dihalalkan untuk mendapatkan rezki).

Tawakkal yang Termasuk Syirik dan yang Diperbolehkan

Dalam hal ini juga perlu diingatkan bahwa tawakkal adalah salah satu ibadah agung yang hanya boleh diperuntukkan bagi Allah Ta’ala semata, dan mamalingkannya kepada selain Allah Ta’ala adalah termasuk perbuatan syirik.

Oleh karena itu, dalam melakukan usaha hendaknya seorang muslim tidak tergantung dan bersandar hatinya kepada usaha/sebab tersebut, karena yang dapat memberikan manfaat, termasuk mendatangkan rezki, dan menolak bahaya adalah Allah Ta’ala semata, bukan usaha/sebab yang dilakukan manusia, bagaimanapun tekun dan sunguh-sungguhnya dia melakukan usaha tersebut. Maka usaha yang dilakukan manusia tidak akan mendatangkan hasil kecuali dengan izin Allah Ta’ala.

Dalam hal ini para ulama menjelaskan bahwa termasuk perbuatan syirik besar (syirik yang dapat menyebabkan pelakuknya keluar dari Islam) adalah jika seorang bertawakkal (bersandar dan bergantung hatinya) kepada selain Allah Ta’ala dalam suatu perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali olah Allah Ta’ala semata.

Adapun jika seorang adalah jika seorang bertawakal (bersandar dan bergantung hatinya) kepada makhluk dalam suatu perkara yang mampu dilakukan oleh makhluk tersebut, seperti memberi atau mencegah gangguan, pengobatan dan sebagainya, maka ini termasuk syirik kecil (tidak menyebabkan pelakunya keluar dari Islam, tapi merupakan dosa yang sangat besar), karena kuatnya ketergantungan hati pelakunya kepada selain Allah Ta’ala, dan juga karena perbuatan ini merupakan pengantar kepada syirik besar, na’uudzu bilahi min dzalik.

Sedangkan jika seorang melakukan usaha/sebab tanpa hatinya tergantung kepada sebab tersebut serta dia meyakini bahwa itu hanyalah sebab semata, dan Allah-lah yang menakdirkan dan menentukan hasilnya, maka inilah yang diperbolehkan bahkan dianjurkan dalam Islam.

Semoga Allah Ta’ala memudahkan kita semua untuk mencapai kedudukan yang agung ini dan semoga Dia senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk memiliki sifat-sifat mulia dan terpuji dalam agama-Ny




Kamis, 07 Oktober 2021

Memahami Islam Rahmatal Lil'alamin

 Tugas Dakwah Bil Qolam Memenuhi Laporan Bulanan Penyuluh Agama Islam Non PNS Spesialisasi Jaminan Produk Halal Kec.Berbek, Kab.Nganjuk

Kamis, 7 Oktober 2021

Memahami Islam Rahmatan Lil’alamin

Ajaran Islam Rahmatan Lil’alamin sebenarnya bu¬kan hal baru, basisnya sudah kuat di dalam al-Qur’an dan al-Hadits, bahkan telah banyak diimplementasikan dalam sejarah Islam, baik pada abad klasik maupun pada abad pertengahan. Secara etimologis, Islam berarti “damai”, se¬dangkan rahmatan lil ‘alamin berarti “kasih sayang bagi semesta alam”. Maka yang dimaksud dengan Islam Rahmatan lil’alamin adalah Islam yang kehadirannya di tengah kehidu¬pan masyarakat mampu mewujudkan kedamaian dan kasih sayang bagi manusia maupun alam.

Rahmatan lil’alamin adalah istilah qur’ani dan istilah itu sudah terdapat dalam Al-Qur’an , yaitu sebagaimana fir¬man Allah dalam Surat al-Anbiya’ ayat 107: ”Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (rahmatan liralamin)”.

Ayat tersebut menegaskan bahwa kalau Islam dilaku¬kan secara benar dengan sendirinya akan mendatangkan rahmat, baik itu untuk orang Islam maupun untuk selu¬ruh alam. Rahmat adalah karunia yang dalam ajaran agama terbagi menjadi dua ; rahmat dalam konteks rahman dan rahmat dalam konteks rahim. Rahmat dalam konteks rah¬man adalah bersifat amma kulla syak, meliputi segala hal, sehingga orang-orang nonmuslim pun mempunyai hak kerahmanan.

Rahim adalah kerahmatan Allah yang hanya diberi¬kan kepada orang Islam. Jadi rahim itu adalah khoshshun lil muslimin. Apabila Islam dilakukan secara benar, maka rahman dan rahim Allah akan turun semuanya. Dengan de¬mikian berlaku hukum sunnatullah, baik muslim maupun non-muslim kalau mereka melakukan hal-hal yang diperlu¬kan oleh kerahmanan, maka mereka akan mendapatkanya. Kendatipun mereka orang Islam, tetapi tidak melakukan ikhtiar kerahmanan, maka mereka tidak akan mendapat¬kan hasilnya. Dengan kata lain, kurnia rahman ini berlaku hukum kompetitif. Misalnya, orang Islam yang tidak melakukan kegiatan ekonomi, maka mereka tidak bisa dan tak akan menjadi makmur. Sementara orang yang melakukan ikhtiar kerahmanan adalah non-muslim, maka mereka akan mendapatkan kemakmuran secara ekonomi. Karena dalam hal ini mereka mendapat sifat kerahmanan Allah yang ber¬laku universal (amma kulla syak).

Sedangkan hak atas syurga ada pada sifat rahimnya Allah Swt, maka yang mendapat kerahiman ini adalah orang mukminin. Dengan demikian, dapat ditarik kesim¬pulan bahwa rahmatan lil’alamin adalah bersatunya karunia Allah yang terlingkup di dalam kerahiman dan kerahmanan Allah.

Dalam konteks Islam rahmatan lil’alamin, Islam telah mengatur tata hubungan menyangkut aspek teologis, ritual, sosial, dan humanitas. Dalam segi teologis, Islam memberi rumusan tegas yang harus diyakini oleh setiap pemeluknya, tetapi hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksa non-muslim memeluk agama Islam (Laa Ikrooha Fiddiin). Begitu halnya dalam tataran ritual yang memang sudah ditentukan operasionalnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunah.

Namun dalam konteks kehidupan sosial, Islam sesungguhnya hanya berbicara mengenai ketentuan-ketentuan dasar atau pilar-pilarnya saja, yang penerjemahan operasionalnya se-cara detail dan komprehensif tergantung pada kesepaka¬tan dan pemahaman masing-masing komunitas, yang tentu memiliki keunikan berdasarkan keberagaman lokalitas nilai dan sejarah yang dimilikinya.

Entitas Islam sebagai rahmat lil’alamin mengakui ek¬sistensi pluralitas, karena Islam memandang pluralitas seba¬gai sunnatullah, yaitu fungsi pengujian Allah pada manusia, fakta sosial, dan rekayasa sosial (social engineering) kema¬juan umat manusia.


Pluralitas, sebagai sunnatullah telah banyak diabadi¬kan dalam al-Qur’an, di antaranya firman Allah dalam surat Ar-Rum ayat 22 yang maknanya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh pada yang demikan itu benar- benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang meng¬etahui”. 

Juga firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13 yang maknanya: “Hai manusia, sungguh kami menciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sungguh orang yang paling mulia di antara ka¬lian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Ayat-ayat tersebut menempatkan kemajemukan sosial sebagai syarat diterminan (conditio sine qua non) dalam penciptaan makhluk.

Dalam al-Qur’an banyak ayat yang menyerukan perdamaian dan kasih-sayang, antara lain surat Al-Hujurat ayat 10 yang memerintahkan kita untuk saling menjaga dan mempererat tali persaudaraan. Allah SWT berfirman, maknanya:

“Sungguh orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu men-dapat rahmat”.

Benang merah yang bisa kita tarik dari perintah ini adalah untuk mewujudkan perdamaian, semua orang harus merasa bersaudara. Dalam konteks ini, Alm KH. Hasyim Muzadi mengajukan tiga macam persaudaraan (ukhuwwah).


Pertama, Ukhuwwah Islamiyah artinya persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar keagamaan (Is¬lam), baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional. 

Kedua, Ukhuwwah wathaniyah artinya persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kebangsaan. 

Ketiga, Ukhuwwah basyariyah, artinya persaudaraan yang tumbuh dan berkembang atas dasar kemanusiaan.

Ketiga macam ukhuwwah ini harus diwujudkan se¬cara berimbang menurut porsinya masing-masing. Satu dengan lainnya tidak boleh dipertentangkan, sebab hanya melalui tiga dimensi ukhuwah inilah rahmatan Lil ‘alamin akan terealisasi.

Ukhu¬wwah Islamiyah dan ukhuwwah wathaniyah merupakan landasan bagi terwujudnya ukhuwwah insaniyah. Baik seba¬gai umat Islam maupun bangsa Indonesia, kita harus mem-perhatikan secara serius, seksama, dan penuh kejernihan terhadap ukhuwwah Islamiyah dan ukhuwwah wathaniyyah. Kita tidak boleh mempertentangkan kedua macam ukhuwwah ini. Dalam hidup bertetangga dengan orang lain, bukan famili, bahkan non-muslim atau non-Indonesia, kita diwajibkan berukhuwwah dan memuliakan mereka dalam arti hubungan sosial yang baik. 

Rasulullah SAW memberikan contoh hidup damai dan penuh toleransi dalam lingkungan yang plural. Ketika di Madinah, beliau mendeklarasikan Piagam Madinah yang berisi jaminan hidup bersama secara damai dengan umat agama lain. Begitu juga ketika menaklukkan Makkah, beliau menjamin kepada setiap orang, termasuk musuh yang di-taklukkannya, agar tetap merasa nyaman dan aman. Gereja- gereja dan sinagog-sinagog boleh menyelenggarakan perib¬adatan tanpa harus ketakutan.

Selama hampir 23 tahun perjuangan kenabiannya, Rasulullah SAW selalu menggunakan pendekatan dialog secara konsisten sehingga misi kerahmatan lintas suku, budaya dan agama dapat dicapai dengan baik. Selama lebih 12 tahun di Makkah, perjuangan beliau penuh resiko, bahkan nyawa beliau terancam. Beliau meminta pada para sahabat untuk tetap bersabar, tidak menggunakan kekerasan dan pemaksaan, apalagi pembunuhan. Bahkan untuk menjaga keselamatan kaum muslimin, karena waktu itu kekuatan Islam masih lemah, pada tahun ke-12 masa kenabian, be¬liau memutuskan untuk berhijrah ke Madinah. Pada periode Madinah ini pun, beliau tetap konsisten mengguna¬kan pendekatan peradaban, yaitu membangun ketenangan masyarakat, menerapkan kebebasan beragama dan kebeba¬san dalam melaksanakan ajaran agama masing-masing yang dituangkan dalam Mitsaq Madinah, yang terkenal dengan sebutan Piagam 

Hal tersebut terkandung maksud bahwa kendatipun terjadi perang, maka motifnya bukan ekonomi atau politik, tetapi motifnya adalah dakwah. Karena itu perang tidak bersifat ofensif tetapi defensif, yaitu semata-mata sebagai jalan (wasilah) menuju perdamaian. Untuk itu, perang tidak boleh eksplosif, tidak boleh destruktif dan harus tetap meng¬hargai HAM, yaitu tidak boleh membunuh orang sipil, anak-anak, perempuan, orangtua, dan tidak boleh meng¬hancurkan linkungan, fasilitas umum dan simbol-simbol agama, serta tidak boleh membunuh hewan. Demikianlah inti wasiat Rasulullah Saw yang disampaikan kepada pasukan sahabat Rasul pada saat Perang Mu’tah dan Fath Makkah.


Sabtu, 11 September 2021

Cara Mencapai Kebahagiaan Hidup dalam Islam

 Tugas Dakwah Bil Qolam Memenuhi Laporan Bulanan Penyuluh Agama Islam Non PNS Kec.Berbek, Kab.Nganjuk

Sabtu, 11 September 2021

Cara Mencapai Kebahagiaan Hidup dalam Islam

Hidup tak selalu berjalan mulus sesuai dengan kehendak kita. Terkadang kita harus melewati masa-masa sulit yang membuat kita kesal atau sedih. Islam mengajarkan kita untuk memiliki harapan dalam hidup.

Hidup di dunia merupakan perjalanan bagi Muslim menuju jannah, tempat yang akhirnya kita akan bahagia. Namun, bukan berarti kita tidak bisa bahagia dalam menjalani kehidupan di dunia. Kebahagiaan adalah perasaan puas dalam situasi tertentu, bahkan yang buruk. Ada berkah dan alasan untuk semua situasi.

Berikut beberapa cara yang bisa kita renungkan 

1. Kenali Tuhanmu

Semua makhluk hidup dan alam semesta berasal dari Allah. Dengan meningkatkan pengetahuanmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, seorang Muslim dapat mulai memiliki hubungan yang lebih baik dengan-Nya. Pada akhirnya ini membantu seseorang menerima situasi apapun.

Dengan sering mengingat-Nya, melalui dzikir, kesulitan dan masalah dapat menjadi jauh dan memungkinkan anda untuk melihat situasi dari sudut pandang yang berbeda.

Allah berfirman dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 yang berbunyi:

 الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

2. Berdoa

Jika kita menginginkan sesuatu, berdoa adalah cara terbaik. Ketika anda ingin merasa bahagia, terbebas dari kesulitan dan mengalami kepuasan dalam hidup anda, jangan berpaling dari Allah. Sebab, semua yang anda dapatkan itu berkat Allah, baik sesuatu kecil maupun besar, Allah yang dapat mewujudkannya.

Berdoalah dengan tulus, terutama pada waktu-waktu penerimaan doa seperti sepertiga terakhir malam dan antara Ashar dan Maghrib pada hari Jumat.

2. Berbuat kebaikan

Habiskan waktumu untuk melakukan perbuatan baik. Mengapa? Karena tindakan yang disukai oleh Allah akan menuntun anda untuk memiliki iman yang lebih kuat. Hubungan ini akan membantu meringankan anda dari kesulitan yang sedang dihadapi.

Banyak hal yang termasuk perbuatan baik. Bisa ibadah langsung, seperti puasa, sholat, dan membaca Alquran guna meningkatkan amalan anda. Bisa juga anda luangkan waktu bersama keluarga, menjadi sukarelawan dalam membantu sesama, dan bersedekah. Ingatlah selalu untuk menjaga niat anda karena Allah dan Insya Allah anda akan diberi pahala yang sesuai.

Dikisahkan oleh Umar bin Al-Khattab, dia mendengar Rasulullah SAW berkata: “Pahala perbuatan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan pahala sesuai dengan yang diinginkannya. Jadi siapa pun yang hijrahnya untuk keuntungan duniawi atau untuk dinikahi wanita, maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju,” (Sahih al-Bukhari).

4. Cari pengampunan

Terkadang, kesedihan kita berasal dari pikiran masa lalu. Kita semua melakukan hal-hal yang tidak kita banggakan dan terkadang hal ini dapat menghantui kita. Pertama, kita harus berusaha untuk tidak mengingat kejadian itu lagi. Sebaliknya, kita harus menghabiskan waktu kita dengan berdoa dan meminta pengampunan dari Allah. Pengampunan dari Allah adalah cara untuk memperbaiki dosa dan kesalahan masa lalu, bukan menyiksa diri sendiri yang dilakukan sejak awal.

Diriwayatkan Abdullah ibn Umar, kami menghitung Rasulullah SAW akan mengatakan seratus kali selama pertemuan: “Tuhanku, maafkan aku dan maafkan aku; Engkau adalah Yang Maha Pengampun dan Pemaaf,” (Sunan Abi Dawud 1516).

5. Selalu ingat itu bisa menjadi buruk

Apa pun situasi yang anda alami saat ini, ingatlah itu selalu bisa lebih buruk. Banyak sekali berita yang menunjukkan orang-orang dalam kesulitan. Meskipun kesulitan kita mungkin sangat memengaruhi kita, dengan melihat orang lain dan menghargai kita tidak berada dalam situasi itu, kita dapat menemukan kedamaian dalam hidup yang kita miliki.

Allah telah menempatkan kita di bumi ini untuk jangka waktu tertentu yang pada akhirnya akan musnah. Sama halnya dengan kesulitan. Dengan menerima hidup kita bisa jadi lebih buruk, kita harus berbahagia dengan apa yang kita miliki dan mensyukuri apa yang memang kita miliki, bukan apa yang tidak kita miliki.


Jumat, 06 Agustus 2021

MUHARROM

 Tugas Dakwah Bil Qolam Memenuhi Laporan Bulanan Penyuluh Agama Islam Non PNS Kec.Berbek, Kab.Nganjuk

Jumat, 6 Agustus 2021

Bulan Muharram

Keistimewaan Bulan Muharram

Ada empat bulan yang disebut sebagai bulan haram yang dimuliakan dan diistimewakan oleh Allah yaitu, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. 

Hal ini tertulis di Surat At-Taubah ayat 36:

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”

Ke-empat bulan haram ini disebutkan oleh Rasulullah di haditsnya dari Abu Bakrah “Setahun itu ada 12 bulan dan di antaranya ada empat bulan mulia, tiga berurutan, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab Mudhar yang ia itu berada antara jumada dan sya’ban,” (HR. Bukhori).

Berikut beberapa keistimewaan Bulan Muharram dibandingkan bulan-bulan lainnya:

1. Bulan dimana perbuatan maksiat akan mendapatkan dosa berkali-kali lipat. 

Bulan dimana seluruh perbuatan maksiat, nilai dosanya lebih berat daripada bulan-bulan lainnya. Bulan Muharram disebut sebagai bulan di mana segala perbuatan maksiat yang mendatangkan dosa untuk haram dilakukan. 

Imam Qatadah berkata: “Sungguh kedzaliman yang dilakukan pada bulan haram merupakan seberat-beratnya kesalahan dari pada bulan-bulan lainnya. Meskipun kedzaliman apapun termasuk kesalahan berat, akan tetapi Allah mengagungkan (memberatkan) apapun yang Dia kehendaki.“

2. Amalan kebaikan akan mendapatkan pahala yang berkali lipat.

Seperti dosa yang berlipat-lipat, di Bulan Muharram, Allah SWT mengistimewakannya dengan memberikan pahala yang berlipat ganda. 

Segala  dosa yang dilakukan akan menjadi semakin berat dan amalan baik yang dilakukan di Bulan Muharram akan mendapat nilai pahala yang berlipat ganda. 

Imam Qatadah yang merupakan ahli tafsir menyebutkan: 

“Amal sholeh lebih besar pahalanya jika dikerjakan di bulan-bulan haram sebagaimana kezaliman di bulan-bulan haram lebih besar dosanya dibandingkan dengan kezaliman yang dikerjakan di bulan-bulan lain meskipun secara umum kezaliman adalah dosa yang besar”.

3. Dosa-dosa setahun yang lalu dihapus bagi yang menjalankan puasa di Bulan Muharram 

Hal ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah: “Nabi shallallahu alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162).


Peristiwa-Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Muharram

Dalam Islam, banyak hal-hal penting yang terjadi di Bulan Muharram. Berikut daftar peristiwa yang terjadi di Bulan Muharram:

Allah SWT menerima taubat Nabi Adam AS.

Kapal Nabi Nuh berlabuh di Bukit Zuhdi setelah terombang ambing selama 150 hari saat dunia diterjang banjir yang menghanyutkan dan membinasakan sebagian besar manusia di Bumi

Nabi Ibrahim AS selamat dari siksa Namrud berupa nyala api yang tidak membakar tubuh Nabi Ibrahim. 

Nabi Yunus selamat dan dapat keluar  dari perut ikan besar yang menelan beliau. 

Nabi Ayyub AS diangkat penyakitnya oleh Allah. 

Nabi Musa AS dan kaum Bani Israil berhasil selamat dari Fir’aun di Laut Merah. 

Awal mula hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah. 

Utsman bin Affan diangkat sebagai khalifah di Muharram 24 hijriah menggantikan Khalifah Umar bin Khattab.


Amalan-Amalan yang Dapat Dilakukan di Bulan Muharram

Seperti yang telah disebutkan diatas, Bulan Muharram merupakan bulan yang penuh dengan keistimewaan. Salah satunya adalah dengan pahala berlipat ganda bagi segala amal dan perbuatan baik yang kita lakukan di bulan Muharram. 

Ada beberapa amalan-amalan yang dapat kita lakukan di Bulan Muharram dengan tujuan untuk meraih ridho dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Aamin ya rabbal’alamiin.. 

1. Puasa Tasu’a dan Puasa Asyura

Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sebaik-baik puasa setelah Ramadan adalah puasa di Bulan Allah, yaitu Bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Pahala berpuasa di Bulan Muharram dalam 1 hari setara dengan puasa 30 hari. Disebutkan oleh Al Hafiz Ibnu Hajar bahwa Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang berpuasa di akhir Bulan Dzulhijjah dan di awal Bulan Muharram, Allah akan menjadikannya penebus dosa selama 50 tahun. Dan puasa satu hari di Bulan Muharram sama dengan puasa 30 hari.”

Puasa Asyura atau puasa di hari ke-10 Muharram ini hukumnya sunnah dan disebutkan dalam hadits HR Muslim bahwa puasa di Hari Asyura dapat menghapus dosa-dosa kita selama setahun yang lalu. 

Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk berpuasa Tasu’a di tanggal 9 Muharram agar berbeda dengan Kaum Yahudi yang mengerjakan puasa di tanggal 10 Muharram. Kaum Yahudi mengerjakan puasa di tanggal 10 Muharram sebagai peringatan saat Nabi Musa AS diselamatkan oleh Allah dari kejaran Fir’aun. 

2. Sholat Sunnah di Malam Asyura

Sholat Sunnah Asyura dapat dilaksanakan di malam Asyura berupa shalat 2 raka’at atau 100 raka’at dengan membaca surat Al Ikhlas sebanyak 3x setelah membaca Al Fatihah. 

Setelah shalat Asyura, dapat dilanjutkan dengan membaca tasbih sebanyak 70x, shalawat 70x, ayat kursi 360x dengan basmallah. 


Keutamaan dari Shalat Asyura adalah sebagai berikut:

1. Diberikan kenikmatan saat ajal. 

2. Keberkahan dalam hidupnya. 

3. Diberikan pahala ibadah yang setara dengan penduduk 7 lapis langit. 

Bersedekah kepada Anak Yatim

Di Indonesia, sebagian umat Islam menyebut 10 Muharram sebagai Lebaran Anak Yatim atau Idul Yatama. Idul Yatama menjadi momen untuk berbagi atau menyantuni anak yatim. 


Keutamaan bersedekah di Bulan Muharram diantaranya:

1. Pahalanya sama dengan pahala sedekah setahun.

2. Doa dan permohonannya dikabulkan oleh Allah.

3. Bila memberi makan, maka seakan-akan ia telah memberi makan seluruh umat Nabi Muhammad hingga kenyang.

4. Bila memberi minum, maka di hari kiamat tidak akan merasa haus selamanya dan seakan-akan ia tidak bermaksiat sekejap matapun.

Dengan mengusap  kepala anak yatim, kita akan mendapatkan pahala yang berlimpah, yaitu setiap 1 helai rambut yang kita usap akan meningkatkan derajat kita sebanyak 1 derajat di Surga. 

Rasulullah SAW dilansir dari kitab Tanbihul Ghafilin bi-Ahaditsi Sayyidil Anbiya-i wal mursalin “Barangsiapa berpuasa pada hari Asyura, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan barangsiapa mengusap kepala anak yatim pada Hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.” 

Meskipun beberapa ulama menyebutkan bahwa hadits mengenai menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram merupakan hadits yang dhaif atau lemah dan tidak dianjurkan untuk dilaksanakan. 

Namun, beberapa ulama menyebutkan bahwa kita boleh mengamalkan hadits dhaif dalam perkara fadhail amal atau amalan kebaikan selama haditsnya tidak maudhu’ atau palsu. 

Jadi, menyantuni anak yatim di tanggal 10 Muharram boleh dilakukan. Namun perlu ditekankan jika menyantuni anak yatim bukan hanya dapat dilakukan di hari Asyura, namun dapat dilakukan kapan pun. 

Untuk ungkapan mengusap kepala anak yatim yang disebutkan diatas, memiliki arti tentang memberikan kasih sayang dan sikap lemah lembut kepada anak yatim. 

Bentuk kasih sayang bukan hanya dalam bentuk usapan kepala saja, namun dengan mengurus anak-anak yatim dengan baik dan memberikan santunan baik secara sandang, pangan, papan maupun pendidikan. Jadi santunan kepada anak yatim ini bukan hanya dilakukan  di 10 Muharram saja, namun berlanjut di bulan-bulan berikutnya. 

Kesimpulannya, menyantuni anak yatim di Hari Asyura merupakan sebuah tradisi yang sudah berlangsung sejak lama. Momen ini dapat menjadi salah satu cara kita untuk membahagiakan anak-anak yatim. Selain itu agar dapat menjadi pengingat bahwa ada anak-anak yatim yang membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kita dan itu bukan hanya dilakukan di Bulan Muharram saja.

Mari kita sambut Tahun Baru 1443 H dengan doa dan semangat agar kita dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT semata-mata demi meraih ridho dan rahmat dari Allah SWT.


 


Senin, 12 Juli 2021

Tawakal ditengah Pandemi Covid 19

 Tugas Dakwah Bil Qolam Memenuhi Laporan Bulanan Penyuluh Agama Islam Non PNS Kec.Berbek, Kab.Nganjuk

Sabtu, 12 Juli 2021

Tawakal di Tengah Pandemi Covid-19

Sabar dan tawakal menghindarkan dari rasa takut dan khawatir yang berlebihan.


Yang Mahakuasa menggerakkan, memperlihatkan takdirnya. Manusia kadang jemawa, merasa akan sanggup melewati segalanya. Hanya dengan hujan sejak semalam, misalnya, banjir menggenangi di banyak titik, melumpuhkan berbagai aktivitas, bahkan dapat menyirnakan impian sebagian manusia. Wabah Covid-19 yang tengah melanda seketika mengubah semua rencana. Kekhawatiran terjangkit virus tersebut membuat manusia memilih untuk membatasi aktivitasnya.

Tawakal (bahasa Arab: توكُل‎‎) atau tawakkul berarti mewakilkan atau menyerahkan. Dalam agama Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil suatu pekerjaan, atau menanti akibat dari suatu keadaan.

Alkisah seorang sahabat datang kepada Rasul ketika menyampaikan telah bertawakkal. Akan tetapi untanya tidak diikat. Maka makna tawakkal kurang tepat, sehingga diminta untuk mengikat unta, baru bertawakkal.

Ikhtiar sekuat tenaga kita sertai dengan doa akhirnya hanya kepada Tuhan lah kita bertawakkal. – (Q.S Al-Anfal: 2)

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

Artinya:

Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya lah aku bertawakkal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” – (Q.S At-Taubah: 129)

وَقَالَ مُوسَى يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ * فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan Musa berkata, “Wahai kaumku, Apabila kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya, jika kamu memang benar-benar orang yang berserah diri.” (84) Lalu mereka berkata, “Hanya kepada Allah-lah kami bertawakkal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang dzalim, (85). – (Q.S Yunus: 84-85)

Ujian berupa musibah datang untuk mengingatkan bahwa limpahan nikmat-Nya seolah tak terasa dan menyadarkan kita tentang dunia yang sementara. Membangunkan dari keterlenaan dan keterpurukan, mengikis kesombongan yang mungkin telah lama melekat pada diri. Kita pun bergegas kembali pada jalan yang diridhai-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya amal seorang hambalah yang mengantarkannya ke tempat terhormat di sisi Allah. Oleh karena itulah, Allah masih akan menimpakan kepadanya ujian berupa perkara yang tidak disukainya, hingga ia bisa menempati kedudukan terhormat di sisi-Nya.” (HR Bukhari).

Ketika Allah SWT mendatangkan musibah, itu karena Allah begitu mencintai hamba-Nya. Dia sungguh ingin mengangkat derajat dan memantaskan seseorang untuk abadi di surga-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah menimpakan musibah berupa penyakit pada tubuh seorang hamba-Nya, Allah akan memerintahkan kepada malaikat-Nya, catatlah itu sebagai amal salehnya. Jika ia sembuh dari penyakitnya, Allah telah membasuh dan membersihkan tubuhnya. Sedangkan jika dengan sakitnya itu kemudian Allah mencabut nyawanya, berarti Allah telah mengampuni dosa-dosanya dan merahmatinya.” (HR Bukhari).

Meski kebanyakan manusia tengah resah, jadikanlah doa sebagai senjata, kekuatan terbaik manusia. Sabar dan ikhlas menjalani, memberikan jalan keluar terbaik, melahirkan pengalaman hidup yang membekas. Seorang mukmin sadar bahwa kehidupan dunia ini penuh dengan ujian. Suka dan duka, nikmat dan musibah dipergilirkan. Dengan ujian-Nya, Allah Yang Maharahman dan Maharahim ingin menunjukkan kasih sayang-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Allah mengujinya dengan musibah.” (HR Bukhari).

Ingatlah, tak ada kejadian apa pun tanpa seizin Allah dan sudah menjadi ketetapan-Nya yang wajib diimani. Mukmin sejati akan memandang setiap keadaan yang menimpanya sebagai kebaikan. Ia senantiasa berusaha mengambil hikmah dari setiap kejadian. Bila mau belajar dari setiap peristiwa, hikmah menjadi ilmu kehidupan terbaik. Jangan jemawa, mintalah selalu kebaikan kepada-Nya karena Dia Sang Mahakuasa. Manusia hanyalah debu tak bermakna, yang tertiup angin pun hilang tak membekas. Rasa syukur dan keimanan pada takdir-Nya memberikan kekuatan maka teruslah berikhtiar lalu berpasrahlah untuk hasilnya.

Sabar dan tawakal menghindarkan dari rasa takut dan khawatir yang berlebihan. Ketika berada pada posisi atau kondisi yang sama sekali di luar kekuasaan, sedangkan segenap upaya telah kita lakukan maka tak ada jalan lain kecuali menerima kenyataan tersebut dan tetap berpegang teguh, yakin, dan berprasangka baik terhadap kehendak Allah SWT.

Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang bertawakal kepada-Nya. Belum disebut beriman orang yang tidak bertawakal kepada Allah. Allah SWT berfirman, “Bertawakallah kepada Allah yang Mahahidup dan tidak akan mati.” (QS al-Furqan:58). Wallaahu a’lam.


Wasiyat Nabi Muhammad Tentang Halal dan Haram

  Tugas Dakwah Bil Qolam Memenuhi Laporan Bulanan Penyuluh Agama Islam Non PNS Spesialisasi Jaminan Produk Halal Kec.Berbek, Kab.Nganjuk Jum...